Cerita Dibangunnya Monumen Pertempuran Hambawang Pulasan Barabai

Barabai.ID – Barabai memang merupakan salah satu kabupaten yang memiliki banyak sekali sejarah perjuangan dalam rangka perang kemerdekaan menghadapi para penjajah. Setidaknya hal ini ditandai dengan adanya sejumlah monumen yang dibangun untuk memperingati kisah heroik para pahlawan Banua dalam merebut kembali kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan para penjajah. Sebut saja diantaranya adalah monumen Keris yang hingga kini masih berdiri kokoh di tengah kota Barabai. Namun demikian, ada beberapa monumen yang bahkan pemuda sekitar saja mungkin tidak tahu kenapa ada monumen tersebut.

Salah satu monumen yang dimaksud adalah Monumen atau Tugu pertempuran Hambawang Pulasan. Lokasi monumen ini sendiri berada tepat di desa Hambawang Pulasan, Telang kecamatan Batang Alai Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Dimana alasan dibangunya monumen tersebut tak lain adalah untuk mengenang pertempuran pahlawan Bangsa yang berasal dari Banua dalam menghadapi para penjajah.

Disebutkan dalam sejarah dan sejumlah sumber bahwa di lokasi dibangunnya monumen atau Tugu tersebut setidaknya terjadi dua kali pertempuran sengit antara para pejuang Banua dengan pihak Belanda. Adapun dua pertempuran hebat tersebut antara lain adalah :

Kamis, Mei 1947

Pertempuran yang terjadi pertama kali di Hambawang Pulasan terjadi di hari Kamis Pagi, pada setidaknya pertengahan Mei 1947. Para pejuang Banua sendiri pada saat itu tengah menjalankan ibadah puasa Ramadhan karena bertepatan pada tanggal 18 Ramadhan. Di tempat tersebut, terjadi perlawanan hebat dari 12 orang tentara GERPINDOM (Gerakan Rakyat Pengejar/Pembela Indonesia Merdeka) yang berani dan rela bertempur mati-matian guna menghadapi sepasukan tentara Belanda yang bersenjatakan modern dan lengkap. Dan kedua belas tentara GERINPOM tersebut yaitu :

  1. H. Aberani Sulaiman (Pemimpin Pasukan)
  2. ,Made Kawis,
  3. H. Damanhuri,
  4. Jamhar,
  5. Sapar/Ancau (Daeng Ladjida),
  6. Hamdi Idar,
  7. M. Suni,
  8. Ibur,
  9. Tuhani (Utuh Dungkuk),
  10. Karim,
  11. Jahri, dan
  12. Utuh Kandangan.

Dalam pertempuaran pertama tersebut Made Kawis yang merupakan tentara Banua meninggal sebagai syuhada dan untuk mengenang jasa beliau, salah satu ruas jalan di Desa Limpasu diberi nama Jl. Made Kawis. Kemudian dari pihak Belanda sendiri tewas 48 tentara terbaik mereka dalam pertempuran tersebut

Agustus 1948

Tidak diketahui dengan pasti kapan tanggalnya, namun dipastikan pertempuran kedua di lokasi ini terjadi pada minggu pertama bulan Agustus tahun 1948. Pertempuran dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini terjadi antara 13 pejuang Banua yang dipimpin oleh Aliansyah. Dalam pertempuran menghadapi sepasukan tentara Belanda yang kedua kalinya ini, pasukan yang dipimpin Aliansyah berhasil dipukul mundur meski memang tidak ada yang meninggal dunia. Sementara di pihak Belanda, meski memang berhasil memukul mundur pasukan Indonesia, sejumlah tentaranya terluka parah oleh tembakan para pasukan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *